Archive for September, 2006

09
Sep

love uncertainty management..

Kata pakdhe Fromm (escape from freedom), ada kecenderungan unik pada manusia untuk mengatasi ketidakpastian dengan mencari keberakaran. tapi lebih unik lagi, ternyata manusia juga tidak nyaman dengan kebebasan, maka manusia lantas berusaha lari dari kebebasan…

Para pecinta, mungkin juga berusaha meminimalisir ketidakpastian dalam cinta (ketidakpastian ini -sebab terbesarnya- adalah karena cinta kembar siam dengan hati, sementara itu, sudah adakah teknologi yang bisa membuat hati dan emosi manusia bersifat konstan?! belum ada laporan), salah satunya dengan berkomitmen. Mulai dari TTM-an, pacaran, tunangan, sampai the higest grade: pernikahan.

sebuah pertanyaan: Apa memang iya?! mungkin komitmen memang bisa jadi reduktor (kata penganut triangle of love) ketidakpastian. tapi, kenapa angka perselingkuhan tetap meningkat ya (datanya menyusul, saudara2). lagipula, komitmen seringkali malah mengantarkan pecinta pada tataran ketidakpastian yang lain, terutama ketika komitmen itu tidak berjalan pada koridor yang semestinya. Bentuknya juga seringkali susah didefinisikan :)

ck..ck..ck..undefinited emotion:)

04
Sep

my prince was gone :(

Kamarku jadi sepi buanget sepeninggal prince PII233-nya Yuli. nggak ada freecell, nggak ada ‘puisi cahaya bulan’nya Nicholas, nggak bisa nulis puisiiiiiiiiiiiii….hiks…i’ll miss your error AGP, juga floppy-mu yang ilang kabel datanya, semuanya! mending melarikan diri aja. ke digilib, loadingnya kok ya luama buanget. ahhhhhhhhh….hari ini belum terlalu bersahabat denganku rupanya. mana harus marah-marah sejak pagi pula :(

01
Sep

Relativitas ’selamanya’

Cerita tentang cerita temenku, beberapa hari lalu. Lagi nggak enak ati dan merasa sangat bersalah karena telah menyakiti hati seorang anak adam. Mungkin rasa bersalah itu jadi sedemikian besarnya karena orang yang ‘disakitinya’ mengirim sms2 bernada putus asa, seolah-olah sangat menderita dan berdarah-darah. Kurang lebih ya begini. .."Selamanya, sampai aku mati, seumur hidup…sakit itu akan terus ada". Ya, paham juga sih, namanya orang lagi ’sakit’, pasti sakitnya nggak main-main. Percaya kok….

Komentarku waktu itu:"He’ll be right. Tenang aja, kamu do’a aja semoga dia baik2 aja. Toh kamu ga punya niat nyakitin dia. Lagian, semua orang emang harus belajar mengatasi rasa sakit. Ini mungkin baru latihan mengatasi rasa sakit yang pertama buat dia. Kalo kali ini dia kalah…berarti dia emang bukan orang yang cukup pantas. Ok, semuanya akan baik2 aja..". (Buktinya aku juga merasakan ’sakit’ itu, tapi toh diriku ini baik2 aja, nggak kurang sesuatu apapun…Red.)

Yang menarik bukan masalah patah hati-nya, tapi perasaan orang yang patah hati itu. Sebenernya bukan cuma orang yang patah hati sih, orang yang lagi jatuh cinta juga –pada dasarnya- mengalami fenomena (?) yang sama. Sering kita denger kata ‘forever’ atau ‘always’ mengikuti kata ‘I Love You’ kan?! Biasanya yang bilang begitu orang yg lagi fall in love. Nah kalo orang yang patah hati, ya seperti di awal tadi: "Seumur hidupku, aku akan terus mengenangmu. Walau kau telah memiliki orang lain, aku tak peduli. Aku tak mungkin jatuh cinta lagi. Tak ada yang bisa menggantikan tempatmu. Karena hanya kematian yang bisa menghapus cintaku padamu…" (Halaaaaah…!!!, Red.) He3..cinta memang aneh..

Tapi, itu tadi cerita tentang fenomena-nya belum selesai. Apakah ’selamanya’ dan ’sampai mati’ tadi benar2 jadi kenyataan?! Tanyalah pada rumput yang bergoyang! Karena sampai saat ini cuma Romeo dan Juliet aja yang bener2 terbukti telah mempraktekkan cinta sehidup-semati. Bagi orang2 lain…ternyata ’selamanya’ itu bersifat relatif. Tergantung. Tergantung apa? Mungkin tergantung pada berapa lama menemukan orang pengganti, tergantung pada kemungkinan untuk bisa balikan lagi, dll.

Jadiiiiiiii…meskipun ada ukuran standar yang disetujui orang se-dunia akhirat tapi ternyata bagi para pecinta, ada ukuran relatif untuk ’selamanya’ itu.

Satu hal lagi, yang ini pertanyaan, karena sampai sekarang aku belum bisa menalarnya juga. Kenapa ya, orang mudah sekali melupakan cinta?! Mudah sekali melupakan ucapan yang notabene masuk kategori ‘janji’?! Maksudnya gini, misale aku jatuh cinta, berbunga2-lah diriku. Dunia milik berdua wis pokoke. Rasanya nggak ada orang lain selain si Mr. X itu tadi. Cintaaaaaaaaaa banget. Trus ternyata putus (o iya, itu tadi ceritanya udah sempet pacaran ya, saudara2..). Sakiiiiiiiiiiiiiit banget. Rasanya mau bunuh diri tapi takut mati (Trus piye karepe?!, Red.). Seiring dengan berlalunya waktu, aku ketemu Mr. X versi 2.0. Ternyata yang ini lebih menarik dan asik. Jatuh cintalah aku. Dunia milik berdua, dan dengan pede-nya aku bilang: "Aku belum pernah jatuh cinta sehebat ini…". Nah, yang dulu itu apa, Ju?!

Sebenernya (lagi), fenomena ini ga cuma menghinggapi para pecinta kok, para pejabat juga punya penyakit sama. Musim kampanye banyak janji, begitu udah jadi bupati, rakyat kelaparan anak2 kurang gizi malah ditinggal pergi naik haji. Kesimpulannya, ternyata semua manusia melakukan malpraktek untuk masalah janji-menjanji ini?! Entahlah, untuk bisa menyimpulkan begitu, harus ada uji hipotesis dulu, ambil data-nya harus pake random sampling biar bisa mewakili semua komponen populasi, nanti analisisnya kan pake regresi berganda to, harus memenuhi 2 uji asumsi ituuu. Naaah kalo udah dianalisis, baru bisa ambil kesimpulan, biar kesimpulannya punya nilai ilmiah tinggi, nggak asal ngomong. Begitu kata dosenku! (ailyms/609010/625am)

01
Sep

Akhirnya aku harus menyerah..

Sebenernya terlalu megah untuk bisa disebut sebagai idealitas, tapi aku suka menyebutnya idealitas. Mungkin cuma semacam keinginan untuk memberikan yang terbaik buat diri sendiri. Bukannya narsis atau egois, rasional saja, siapa lagi yang mau melakukan yang terbaik untuk diri kita kalau bukan kita sendiri. Sepakat to?!

Satu hal yang kulakukan secara intens setahun ini, bagaimanapun tersendatnya, adalah berangkat dari sebuah keinginan (atau idealitas) itu. Sebenarnya, nyaris sempurna seperti yang kumaui. Beberapa kali merasakan drop n down tapi justru disitulah seninya. Namanya juga perjuangan :) sampai pada suatu titik, aku harus sedikit ‘curang’ dan memotong jalan. Okelah. Ini pengingkaran pertama terhadap idealitas itu. Lalu semuanya berjalan normal. Wajar. Lancar. Dan akhir agustus, beberapa hari setelah perayaan kemerdekaan RI. Perang personal itu dimulailah. Kalahkah aku?! Secara de yure tidak. Tapi secara de facto?!  Apa yang bisa kubanggakan dari mencoret berlembar-lembar tulisanku sendiri?! Apa menghapus file-file yang kususun selama bermalam-malam tanpa tidur adalah suatu kemenangan?! No I think not..

Atau kadang keadaan memang tidak mau kompromi ya?! Keliatannya sih menawarkan beberapa opsi, tapi justru ia ingin menjebak kita dengan semua opsi-opsi itu, dan akhirnya…selamat jalan kemenangan! Welcome to the loser world! Heheh2…nggak juga kalo aku menderita sekali. Cuma agak kecewa. Gang yang kupilih ini buntu, nampaknya. Artinya aku harus berbelok jalan atau menghentikan perjalanan sampai disini saja, berteduh disembarang rumah yang aku temui…ya…nanti gampanglah itu. Kalau emang udah kepepet ;p

Mmm…mungkin juga ini adalah ‘karma’ karena aku  telanjur mengkhianati idealitas yang  pertama dulu. Padahal waktu itu ada banyak pilihan lain, kenapa aku pilih yang itu ya?! Ah God, forgive me please.

Finally, dengan penuh keresahan, mungkin aku memang harus menyerah. Malam ini, coretlah segala sesuatu yang memang harus dicoret. Delete-lah apa yang seharusnya ter-delete…

Sambil bersenandung kecil, kubisikkan pada diriku: "orang cerdas bisa menertawakan dirinya sendiri bahkan ketika ia melakukan kesalahan yang paling bodoh sekalipun :)"

29 agustus, 02:12