Archive for October, 2006

16
Oct

my name is desperate..

Ruang Bimbang I:

Rasanya seperti setetes air hujan yang baru aja jatoh dari daun ke tanah. Nggak nyaman, sendirian, pengen balik ke daun lagi, nggak suka bau tanah…!

Kenapa ragu2 ini masih terus mengendapi pembuluh2 di otakku?! Sementara aku tau pasti, burung pipit yang kecil aja berani terbang tinggi menantang angin. Kenapa aku masih terus menyangsikan kemahaadilan-MU?!

Satu lagi kesempatan ilang gitu aja…. Kemana mo nyari lagi coba?!

Ruang bimbang II:

-Cencored-

10
Oct

lum dpt2 judul juga

(sambil dengerin joy enriquest)..kenapa aku hobi banget nulis sih? ntahlah! sampe kamar berantakan kertas2. apalagi klo pas dapet pinjeman laptop ato komputer, bisa nggak tidur bermalam2, ngetik! lamaaaa bgt ga bikin pwisi, tapi semalem, lahir juga satu pwisi! melo seeh..tapi..seem like a nice start :)

Telah lengkap kuuraikan cahaya rembulan

Menjadi lilin berpendar pada kertas-kertas

Yang menuliskan ketidaktahuan kita. Suratmu

Tapi masih juga,

Aku tak punya cukup nyali untuk mengejanya

-pengecut yang mengaku pemberani-

Cemooh angin malam. Aku diam

Karena mimpi semalam telah mengirim pesan

Jauh hari sebelum aku belajar membaca senyummu

Kau adalah absurdisitas yang mengejawantah

Tiba dimimpiku dari negeri yang langitnya selalu purnama

Membawakanku  seribu mawar yang mekar semua

Untuk kemudian pergi lagi.

Setelah itu,

Hatiku serupa pasir pantai

Penuh oleh jejak tikam langkahmu

Cuma ada siluet lambaian tanganmu diufuk barat

Telah lengkap kuuraikan cahaya rembulan

Biar ia tak pernah bisa jadi purnama

Sejak malam itu, aku melihat purnama sebagai bingkai

Lukisan abstraknya harapan dan imagi

Serta segala sesuatu yang sentimental dan melankolis

Dan kau. Semua yang berwarna sepi

Tapi mimpi semalam membuatku faham

Besok purnama datang lagi. Bersamamu

Sementara aku belum mampu membaca semua pertanda

Yang kau bawa dan kau tinggalkan

Di ruang-ruang tanpa sekat di hatiku…

23 lewat dikit, 10 okt 06

01
Oct

cinderella complex. am i infected?!

cinderella. siapa lum pernah denger nama itu? seorang puteri yang ditawan penyihir lalu diselamatkan seorang pangeran tampan..lalu hidup bahagia selama-lamanya. pernah mikir, betapa enaknya jadi cinderella?! terutama para cewek. wajar. bukan cuma satu dua orang yang begitu, tapi puluhan, ratusan, bahkan ribuan. lantas muncullah terminologi ciderella complex.

paling tidak ada satu bagian dari dongeng cinderella yang digugat para feminis: kenapa cinderella harus menunggu untuk diselamatkan pangeran-nya dan bukan berusaha menyelamatkan diri sendiri?! bukan salah cinderella, bukan juga salah pengarangnya. karena dongeng itu malah seolah2 menjelma jadi fotografer yang memotret perempuan dalam angle yang kreatif…
kata kuncinya adalah "menunggu untuk diselamatkan pangeran-nya". mainstream pola pikir orang2 disini. sah-sah saja kalo perempuan nggak mandiri dan sering minta tolong laki-laki. sah-sah saja kalo perempuan tergantung. karena memang perempuan tidak boleh lebih cerdas dan hebat daripada laki-laki (apalagi suaminya). perempuan merasa nggak berdaya, dan untuk itulah ia akan menunggu seorang ‘pangeran’ yang akan menyelamatkannya, membawanya ke istana, dan membahagiakannya.
huffffffffffff… terlalu ekstrimkah ini?! pandangan picik sebagian orang?! karena toh.. banyak perempuan yang mandiri, punya karir setinggi langit dan tetap intens bersama keluarga, dan perempuan-perempuan hebat yang membuat dunia tercengang. ini dunia, saudara2, memang selalu ada potret yang berlainan…

sambil bercermin, aku berfikir. kenapa aku menulis ini?! karena nggak suka dengan kejadian2 itu? atau justru karena, ‘virus’ itu telah menyerangku dan…here i am..positif mengidap cinderella complex, lantas mencari2 pembelaan atau rasionalisasi? entahlahhh..
tapi, paling tidak aku nggak sendiri. kemaren baru ngobrolin masalah ini sama seorang sahabat yang baru akan merintis karir (hi3..nggaya tenan ki!), beliau juga merasakan kebimbangan yang sama. perasaan seorang perempuan…ha2