No Name
Ia datang padaku pada suatu kali
ketika embun belum lagi membuka kunci mimpi
dan pagi belum melapangkan jalan kesadaran
Pernah juga ia datang di tengah siang
justru ketika di hatiku tak ada cukup ruang
untuk membangun lamun
Tapi lebih sering ia mengendap malam-malam
menembak mati kantuk dan membunuh waktu tidurku
Ia tak masih tak bernama selama kau masih belum menyapanya
tapi sementara ini, kupanggil ia "Cinta"
^-^ -DEVIciously-
Hei! Benarkah matahari beku di pelupuk matamu?
siang terlalu gegas pergi
tak pula sempat berkisah pada para pejalan kaki
sepanjang lorong penuh tempelan reklame resah
itukah terjemahan wujud matahari menurutmu?!
Angin limbung. Berkisar-kisar di tanah rendah
melambung-putarkan sampah-sampah
dan..malam menjemput lebih cepat dari jadwal
lalu kau mulai sadar, kau sendirian tak tau jalan
Orang-orang berlalu lalang. melamun. membaca koran.
mendengarkan i-pod lewat earphone. makan. berjalan.
ada lagi-kah untuk menyebut saling tak peduli?!
selintas..(tapi aku faham) matahari di matamu itu mencair
ooiiii…itukah wujud airmata menurut kamusmu?
dunia terlalu terlambat untuk mengerti
bahwa orang-orang sepertimu selalu dirundung sunyi
tah hendakkah kau lari?!
-DeviBelajarMemaknai-
-diJuandaSuatuSiangYangTerlaluBiasa-
DD=Degradasi Devi.
Kepedulian..kepedulian..kenapa kau pergi jauh sekali.
Disini cuma ada melankoli yang sebentar-bentar terasa cengeng
Sementara diluar sana ribuan bayi menangis (bukan karena cengeng) tapi karena lapar
Next on my blogs: Aktivasi Kemanusiaan