Hujan, Jalan, Sunyi, dan Ketakfahaman: Sebuah Lamunan (2)
Suatu waktu, kalau kau ada waktu dan kau lagi mau, akan kuperlihatkan padamu warna hatiku (maaf kalau agak egois, karena sebenarnya sudah lama aku mencari warna hatimu. merah. ungu. biru. tapi ujung-ujungnya aku sadar bahwa untuk menebak warnamu, aku harus membunuh ratusan rindu yang merubung malam-malamku lebih dulu. itu sangat susah buatku. maka kubiarkan saja aku tetap buta pada warnamu. sampai saat ini.)
Hatiku bersampul warna ungu muda dengan berjudulkan huruf besar berbunyi: "Ketakfahaman". Ia mencari definisi atas keberadaannya pada kamus kecil kehidupan. Ia mencari bunyi-bunyi dari senyap yang menyelusup pelan dari jendela pagi. Ia bercermin pada cermin retak yang bercerita tentang hujan, semalaman padaku. Ia mencuri kelembutan cahaya bulan dan memakai kedahsyatan panas matahari pada sendu yang sama. pada wajah yang sama. dan itulah ia…
Bersambung… (lagi)