Archive for January, 2008

02
Jan

Muntilan: Moon Island

-Laporan perjalanan liburan :D-

 Sebuah sore
yang mendung di pusat Jakarta mengantarkan
memoriku pada kota kecil -yang meskipun bukan tempat lahirku- tapi menyimpan warna putih-merah,
putih-biru, sampai putih-abu masa lalu. Muntilan. Dengan rendah hati, karena
menyadari kelemahan dalam mendeskripsikan arah angin, saya hanya dapat
menjelaskan bahwa Muntilan ini terletak di antara jalan raya Jogja-Magelang,
sekitar 25 KM dari Jogja. Catatan tentang kota kecil yang menyimpan pesona heterogenitas.

P1070235_1
Sm1frame30_1

 

Di atas adalah
"gerbang" masuk Muntilan dari arah Jogja. jadi ingat, tiap kali
pulang dari luar kota dan melihat papan nama warna biru dengan tulisan putih "MUNTILAN"
yang nyaris pudar itu, ada yang dingin mengguyur dada. mungkin karena memang
udara Muntilan yang relatif lebih sejuk dari pada Jogja. mungkin juga karena
secara psikologis, alam bawah sadar mendiktekan bahwa tulisan itu selalu
berasosiasi dengan rumah dan makan gratis (maklum, anak kos :D).

Memasuki
Muntilan dari arah Jogja, kita akan disuguhi sebuah pemandangan dari
"dunia lain". Seolah memasuki abad lampau, karena sepanjang jalan,
ribuan patung dan kerajinan berbahan dasar batu menggoda kita untuk tak
mengedipkan mata. Sentra kerajinan batu yang cukup terkenal adalah di Ds. Taman Agung dan
Kota Mungkid.
Industri kerajinan ini telah berlangsung puluhan tahun,
menawarkan berbagai ukuran patung batu dengan variasi bentuk dan harga yang
beragam. Bahan
baku biasanya didatangkan dari
Wonosari (Gunungkidul), marmer dari Tulungagung dan Makassar.
Hasil kerajinan batu ini, selain dinikmati oleh konsumen lokal dan nasional,
juga banyak dikagumi oleh turis dari Italia, Inggris, Malaysia, Kamboja,
Vietnam, Thailand, dan Myanmar. (http://www.suaramerdeka.com/harian/0407/30/nas07.htm)

Melanjutkan
perjalanan, masih diujung Muntilan, pendatang akan menemukan sebuah perempatan
yang banyak menyajikan berbagai oleh-oleh khas Muntilan (juga Magelang, Jogjakarta, dan
sekitarnya). Dua yang paling terkenal adalah Tape ketan dan Gethuk.
Tape ketan ini dapat dideskripsikan sebagai makanan basah dan lembek dengan
rasa manis-asam, (biasanya) berwarna hijau, dan berbau khas sebagai hasil
fermentasi dari beras ketan (Oryza Sativa Glotinosa). Sementara, yang
bernama "Gethuk" itu terbuat dari Ketela pohon (manihot utilissima) atau ubi (Manihot esculenta) yang di giling atau dihaluskan, dengan citarasa
manis plus harum daun pandan atau vanili. Biasanya dibuat warna-warni dan
disajikan bersama parutan kelapa muda. Makanan lain bagi penggemar "klethik-klethik" adalah slondhok atau lanting yang juga berbahan dasar ketela pohon.            
                            
                     
             
         


Gethuk2_1
Imagestape

Memasuki
tengah Muntilan,
ada dua lokasi yang cukup terkenal (paling tidak di Jawa). Dua-duanya merupakan
pusat perguruan spiritual, yang satu adalah Pondok Pesantren Watu Congol (Gunung Pring) dan satu lagi adalah Perguruan Van Lith. Ponpes Watu Congol
yang terletak di belahan kiri jalan utama Muntilan merupakan salah satu pondok
pesantren NU yang didirikan oleh Syaikh Al-Haj Dalhar bin Abdurrahman. Tercatat
beberapa beberapa ulama besar pernah menimba ilmu di Pondok ini, seperti Kh
Hamim Jazuli (Gus Mik), Syaikh Ahmad Jauhari Umar penulis Kitab Manakib
Jawahirul Ma’any dll, dan masih banyak lagi. (http://borok-bangsaku.blogspot.com/2007/11/super-nova.html).
Disini pusat belajar agama Islam. Walau belum pernah menyaksikan langsung, tapi
lagu “Kota Santri” sangat cocok untuk mendeskripsikan suasana di Gunung Pring
ini. Santri-santriwati pulang pergi
mengaji di pagi dan sore hari. Lantunan ayat Al-Qur’an. Masyarakat yang
berduyun-duyun menghadiri pengajian..

Perguruan Van
Lith diambil dari nama pastor FGJ Van Lith SJ (1863-1926) yang merintis
pendirian sebuah sekolah desa dan sebuah bangunan gereja yang sederhana pada akhir
abad ke-19, 1897. Gereja kecil dan sekolah desa itu kemudian berkembang menjadi
satu kompleks gedung-gedung yang di tahun 1911 dinamai St Franciscus Xaverius
College Muntilan. Selain itu, ada juga Pastor R Sandjaja Pr yang terbunuh tahun
1948. Mereka berdua dimakamkan di
lokasi yang sama, Pemakaman Muntilan, salah satu tempat ziarah umat Katolik di
 Jawa. (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0312/27/natal/768772.htm).
Rutinitas di kompleks ini tak jauh berbeda dengan kesibukan di Gunung Pring.
Tiap pagi dan sore, ada saja pemeluk taat yang menghadiri berbagai kegiatan
keagamaan di kompleks ini.

Sepanjang jalan utama
Muntilan –Jl. Pemuda- merupakan daerah Pecinan, yaitu pemukiman komunitas Cina
yang kebanyakan berupa ru-ko. Di ruas jalan itulah pusat perekonomian Muntilan.
Apalagi akhir-akhir ini, mulai banyak toko modern yang menerapkan sistem
swalayan sehingga konsumen dari daerah pelosok kerap beranjangsana sekedar
untuk melihat-lihat ”kekotaan” Muntilan yang terpajang di sepanjang Jalan
Pemuda ini. Di tengah ruas jalan, kita kembali disuguhi bukti heterogenitas Muntilan,
sebuah Klentheng Kong Hu Cu. Lalu di
pangkal jalan, lagi-lagi pusat perekonomian: Pasar Muntilan. Macam-macam
dagangan mulai dari kebutuhan sehari-hari, ternak dan unggas, sayur dan buah,
pakaian, sampai furnitur digelar di pasar ini.

O iya, bagi penyuka wisata kuliner, bisa mampir ke
daerah jalan Sayangan dan Tambakan. Di kedua lokasi tersebut, kita bisa
memperoleh macam-macam makanan seperti Kupat Tahu mBlabak, soto dan bakso,
aneka makanan olahan daging kambing, sampai gudeg. Rasanya…mmmmhh…silakan
coba sendiri.

Sebagai daerah yang relatif dekat dengan Gunung Merapi, ada objek wisata yang
sangat menarik, yaitu Ketep Pass
atau gardu pandang Ketep. Dari
Muntilan, kita bisa melalui rute Talun untuk sampai kesana. Sesuai namanya, di
Ketep Pass ini kita bisa menyaksikan Gunung Merapi dari dekat. Lokasi ini
dilengkapi dengan teater yang memutar video meletusnya Merapi dari periode ke
periode; ”Museum” mini yang menyimpan miniatur Gunung Merapi, macam-macam
batuan hasil erupsi Merapi, foto-foto letusan Merapi, dan informasi lain
seputar Merapi; plus….tempat makan-makan. Menikmati secangkir kopi dan
semangkuk mie rebus yang mengepul hangat di tengah cuaca dingin dan hamparan
pemandangan yang didominasi warna hijau-biru, ternyata sangat lain rasanya….

08
12





Oke, mari lanjutkan perjalanan. Keluar dari jalur
Jl. Pemuda, kita kembali akan terpaku oleh puluhan, ratusan, ribuan patung batu
yang di pajang disepanjang jalan menuju Borobudur oleh puluhan pekerja seni di
Ds. Tamanagung. Setelah melewati Jembatan kali Pabelan, ada satu lagi situs
keagamaan sekaligus pendidikan, yaitu Pondok
Pesantren Pabelan
yang lokasinya sekitar 1 Km dari jalan utama. Masih asri
dan dikitari sawah nan hijau segar. Tapi sayangnya, disinilah batas wilayah
Muntilan berakhir. Selanjutnya kita bisa memilih, melanjutkan perjalanan ke
Kota Magelang atau Borobudur. Keduanya berjarak sekitar 20 Km dari Muntilan.

Yaa…ternyata meskipun kota kecil, capek juga ya
muter-muter di Muntilan. A nice village, isn’t it?

 -Juanda, hari ke3 ’08-