Ada satu alamat
yang tak pernah kau cantumkan
di agenda, buku catatan, kartu nama maupun KTPmu
padahal kesinilah kau akan selalu pulang
disini alamatmu: hatiku!
(Cinta memang tak memerlukan wilayah khusus untuk tumbuh, tapi ia perlu merasa cukup aman untuk mendiami hatimu, tanpa takut digusur atau terjebak dalam labirynth janji-janji. Jadi, sekarang disinilah aku, didepan pintumu siap untuk mengetuknya. Dan sudah siapkah kau membukanya setiap waktu aku mengetuk?!)
Sebuah pertanyaan untuk diri sendiri.
… (baca: TIGA TITIK)*
aku kali engkau sama dengan kita
hatiku tambah hatimu sama dengan cinta
jiwaku dikurangi jiwamu sama dengan rindu
senyumku dibagi senyummu sama dengan candu
13 kilometer setiap malam. seringkali menembus hujan
engkau mendung, dan akulah gerimismu
engkau hujan, dan akulah banjirmu
dan malam dengan rela hati selalu hujan. hujan yang manis
terlalu manis untuk tidak direguk
maka gelap adalah saksi ketika bercangkir-cangkir kopi manis
(airnya air hujan, gulanya gula hujan, kopinya kopi hujan)
kita reguk…
-beberapa hari setelah batu tulis banjir dan kali malang tetap kering kerontang-
* Judul ini terinspirasi dari prolog dan epilog sebuah instan messaging, di suatu sore yang dingin, 80022050.