Archive for March, 2008

30
Mar

Hujan, Jalan, Sunyi, dan Ketakfahaman: Sebuah Lamunan (4)


Sapamu terbawa angin
Hinggap di pucuk dingin

Membekaskan sebaris paragraf kosong
Mencoba mengejanya membuatku merasa sia-sia

::Maret akhir::
(Ternyata aku masih juga bocah perempuan kecil
Yang rentan luka dan dosa
Tapi aku belum mau pulang
Biar, gerimis akan menjadi payungku
Sakit akan menjadi guruku)

27
Mar

::kuliner:: yang lezat dan hangat dari Muntilan

Bulan maret, hujan masih rajin meng-apeli Muntilan.  Sore itu, meluncur dari Jogja dalam cuaca mendung. Sampai di Muntilan sudah gelap, ba’da magrib, dan karena sudah kelaparan langsung ke daerah Jalan Sayangan. Dingin-dingin begini, enaknya yang anget-anget. Minum wedang ronde atau makan bakso… wuuiiiiiiiiihh… tapi malam itu, ada menu lain yang lebih menggoda :D

Disepanjang jalan Sayangan, bederet-deret warung tenda sudah mulai ramai pengunjung. Aneka aroma yang nyam-nyam menyebar dari tungku-tungku yang mulai menyala. Ada aroma sate ayam dan kambing, aroma nasi goreng, aneka macam mie, dan… di ujung sana, menu yang jadi target saya malam itu: tongseng jamur!

Tak lama setelah duduk dan memesan, segelas teh hangat terhidang (seksinyaaaa teh manis itu ditengah kedinginan saya!). warung tenda itu tak terlalu mencolok dibanding warung-warung lain, bahkan relatif lebih kecil, ukurannya sekitar 4×3 M. Dengan penerangan dua buah petromaks, dilayani dua bapak-bapak, tiga bangku panjang, spanduk warna kuning dengan tulisan merah kecil-kecil…nyaris tak ada yang istimewa.

Ketika sedang celingukan mengamati seisi warung itulah, tiba-tiba breeesssss…hujan turun dengan derasnya. Untungnya makanan sudah siap, jadi saya terhindar dari bencana kelaparan. Seporsi tongseng jamur terdiri dari semangkung tongseng jamur dan sepiring nasi putih yang mengepul hangat. nyamm..
230308_0237

Tongseng jamur berisi campuran jamur shiitake yang dipotong kecil-kecil, suwiran daging ayam, telur ayam kocok, dan irisan daun kobis yang berendam dalam kuah kuning tongseng. Bagi yang doyan pedes, diatasnya ditambah taburan cabe rawit iris. Bagi orang yang menghindari daging kambing tapi tergila-gila kelezatan tongseng, mungkin menu satu ini bisa dijadikan referensi. Apalagi, di warung ini jamurnya nggak bau tanah dan pas matangnya. O iya, satu lagi yang paling penting, ga mahal.. cukup 7.000/ porsi plus 1.000 untuk minuman hangatnya.

Selesai makan, alhamdulillah, hujan reda. Pulanglah saya ke rumah dengan hati riang dan perut kenyang, sambil menenteng bungkusan berisi 2 porsi tongseng jamur buat oleh-oleh.

(Tulisan ini sebagai pengurang rasa bersalah saya karena tiap kali ditanya "Di Muntilan banyak makanan enak to? Saya dulu pernah mampir di warung Soto di dekat pasar, enak banget. Nasi goreng kambing di daerah Tape Ketan juga enak banget. Belum lagi Soto empal di jalan Veteran… itu pernah masuk ke kolom kuliner Kompas lho. Iya kan, Dev? kamu pasti pernah nyobain semua?". Saya nggak tau harus jawab apa, maklum anak rumahan, ga pernah beli makan diluar, ga tau makanan enak di mana. Sebuah artikel malah menyebut bahwa Muntilan banyak menyimpan koleksi kuliner nusantara. Aaahhh…Muntilan, I love U ;)

27
Mar

WHEN I’M FALL IN LOVE

I. Kalau Kau Pergi

Kalau kau mau pergi,

Jangan lupa bawa hatimu dan masukkan aku kedalamnya

Tutup rapat dan dekaplah kemanapun melangkah

II. Be my husband please…

Sayang,

Menikahlah denganku

Dan jadilah ayah bagi anak-anak kita

Be my husband please…

(27 Maret 2008)

He he he :D Puisi ngaco! dasar devi!

24
Mar

Hujan, Jalan, Sunyi, dan Ketakfahaman: Sebuah Lamunan (3)

I
Senja meranum di matamu. Lelah dan resah
Dan aku tak lagi punya nyali untuk memetiknya
Hujan terrangkum di bibirmu. Sendu dan kelu
Tapi aku tak lagi mampu untuk mengejanya

Musim sedang tak bersahabat, Kawan…
Kau tahu itu. Lalu kenapa kau masih duduk disitu?
Masih mengirim pesan lewat sunyi, matahari, hujan
dan segala sesuatu yang susah dimengerti?
Sedang aku tak dapat lagi menjawabnya…

Pulanglah ke rumah. Tidur dan istirahatlah
Kau masih bocah kecil yang tak kebal dosa dan luka
Yang bahkan tak dapat mengerti kenapa senja begitu cepat pergi
Maka pulanglah…

(Sekali waktu, kalau kau mau aku bisa mampir lagi sebentar)

II
Ketika duri telah menyatu didagingmu dan luka bersekutu di jiwamu
Racunnya baru mengendap, menusuk menancap
Kau gugur jiwa dalam hitungan kilat
Tapi sejarahmu tak lagi bisa kucatat
Balut, Balutlah sendiri. Patah, patahkanlah sendiri

:::akhir Maret; malam, pagi, siang, dan malamnya lagi:::

10
Mar

Catatan 24

“Kamu siapa?” Demikian tanya Resi
Parasurama pada Radheya ketika anak muda yang tak jelas asal usulnya itu
mengetuk pintu gerbang padepokan Sang Resi. Tentu tujuan Radheya adalah untuk
menimba berbagai macam ilmu di padepokan itu. Yang diinginkan Sang Resi dalam
pertanyaan dua kata itu bukan hanya jawaban semacam nama atau asal, tapi juga
masa lalu dan masa depan si calon murid (petikan dari Catatan Pinggir 3,
Goenawan Mohammad).

Dan bukankah pertanyaan itu juga
yang harus kita ajukan pada diri kita?! Kalau tak mungkin menanyakannya setiap
hari, mungkin ada momen tertentu (tahun baru, pasca kelulusan, pascanikah,
ulang tahun, dll) yang mengharuskan kita bercakap-cakap dengan jujur pada diri
kita sendiri. Dan seperti yang dialami Radheya, memang tak mudah menjawab
pertanyaan itu. Apalagi ketika kita berhadapan dengan sederet panjang target
yang tak tercapai setelah pergulatan hidup yang cukup panjang (pengalaman
pribadi, Red :D).

Target yang tak
atau belum tercapai, adalah stressor terkuat dalam kehidupan manusia. Piaget,
seorang Psikolog perkembangan, telah membuat suatu pemetaan tahap hidup manusia
puluhan tahun lalu. Hasilnya adalah serangkaian tahap (diistilahkan sebagai
“tugas perkembangan”) yang harus dicapai oleh manusia pada usia-usia tertentu
agar tetap mampu hidup ‘normal’. Ketika tugas perkembangan ini tidak terpenuhi,
maka manusia akan mengalami kompleks abnormalitas. Bukankah Piaget juga bicara
tentang target dan keterpenuhannya?

Misalnya, pada
usia dewasa muda (19 – 29 tahun) tugas perkembangan seseorang adalah memiliki
hubungan romantik dengan lawan jenis dan memiliki hidup mandiri (bekerja).
Seseorang yang pada usia tersebut belum memiliki pasangan dan belum bekerja,
kemungkinan besar akan mengalami kegelisahan dan dapat memicu stres. Tapi toh
hidup belum akan berhenti. Kegelisahan dapat berubah jadi stres, tapi juga bisa
menyeret kita pada perjuangan memerangi kegelisahan itu sendiri.

Pada banyak
situasi, perbedaan itulah yang membuat satu orang berhasil dan lainnya tidak.
Ketika kita mampu memilih untuk membunuh kegelisahan alih-alih larut
didalamnya, saat itulah kita sudah mulai menjawab pertanyaan “kamu siapa?”
tadi.

Dan jawaban
pertanyaan “kamu siapa?” bukan sesuatu yang konstan, yang berhenti setelah satu
kondisi (atau tugas perkembangan, menurut istilah Piaget) tercapai. Karena
itulah, dengan berbekal banyak kegelisahan dan sedikit pikiran, aku beranikan
diri untuk kembali bertanya “kamu siapa?” pada diriku sendiri tepat ketika
usiaku beranjak 24.

Kuharap,
pertanyaan dan jawaban itu tidak hanya terhenti sebagai pertanyaan dan jawaban
sebagai apa adanya tapi akan terus berputar bersama jarum jam sebagai pemahaman
akan hidup, rasa syukur, ikhlas, dan kerja keras. Terus menemaniku menjawab
pertanyaan-pertanyaan lain yang mengejar sepanjang usia ini.

Catatan 28

“Kita akan
selalu saling mengingatkan. Sepuluh tahun lagi, duapuluh tahun lagi, tigapuluh
tahun lagi, empat puluh tahun lagi, limapuluh tahun lagi. Tentang negeri-negeri
yang akan kita jelajahi. Dan disinilah kita sekarang: langkah pertama dari
perjalanan panjang ini. Iya kan?!”

-Juanda, antara 2 hari ulang tahun-