“Kamu siapa?” Demikian tanya Resi
Parasurama pada Radheya ketika anak muda yang tak jelas asal usulnya itu
mengetuk pintu gerbang padepokan Sang Resi. Tentu tujuan Radheya adalah untuk
menimba berbagai macam ilmu di padepokan itu. Yang diinginkan Sang Resi dalam
pertanyaan dua kata itu bukan hanya jawaban semacam nama atau asal, tapi juga
masa lalu dan masa depan si calon murid (petikan dari Catatan Pinggir 3,
Goenawan Mohammad).
Dan bukankah pertanyaan itu juga
yang harus kita ajukan pada diri kita?! Kalau tak mungkin menanyakannya setiap
hari, mungkin ada momen tertentu (tahun baru, pasca kelulusan, pascanikah,
ulang tahun, dll) yang mengharuskan kita bercakap-cakap dengan jujur pada diri
kita sendiri. Dan seperti yang dialami Radheya, memang tak mudah menjawab
pertanyaan itu. Apalagi ketika kita berhadapan dengan sederet panjang target
yang tak tercapai setelah pergulatan hidup yang cukup panjang (pengalaman
pribadi, Red :D).
Target yang tak
atau belum tercapai, adalah stressor terkuat dalam kehidupan manusia. Piaget,
seorang Psikolog perkembangan, telah membuat suatu pemetaan tahap hidup manusia
puluhan tahun lalu. Hasilnya adalah serangkaian tahap (diistilahkan sebagai
“tugas perkembangan”) yang harus dicapai oleh manusia pada usia-usia tertentu
agar tetap mampu hidup ‘normal’. Ketika tugas perkembangan ini tidak terpenuhi,
maka manusia akan mengalami kompleks abnormalitas. Bukankah Piaget juga bicara
tentang target dan keterpenuhannya?
Misalnya, pada
usia dewasa muda (19 – 29 tahun) tugas perkembangan seseorang adalah memiliki
hubungan romantik dengan lawan jenis dan memiliki hidup mandiri (bekerja).
Seseorang yang pada usia tersebut belum memiliki pasangan dan belum bekerja,
kemungkinan besar akan mengalami kegelisahan dan dapat memicu stres. Tapi toh
hidup belum akan berhenti. Kegelisahan dapat berubah jadi stres, tapi juga bisa
menyeret kita pada perjuangan memerangi kegelisahan itu sendiri.
Pada banyak
situasi, perbedaan itulah yang membuat satu orang berhasil dan lainnya tidak.
Ketika kita mampu memilih untuk membunuh kegelisahan alih-alih larut
didalamnya, saat itulah kita sudah mulai menjawab pertanyaan “kamu siapa?”
tadi.
Dan jawaban
pertanyaan “kamu siapa?” bukan sesuatu yang konstan, yang berhenti setelah satu
kondisi (atau tugas perkembangan, menurut istilah Piaget) tercapai. Karena
itulah, dengan berbekal banyak kegelisahan dan sedikit pikiran, aku beranikan
diri untuk kembali bertanya “kamu siapa?” pada diriku sendiri tepat ketika
usiaku beranjak 24.
Kuharap,
pertanyaan dan jawaban itu tidak hanya terhenti sebagai pertanyaan dan jawaban
sebagai apa adanya tapi akan terus berputar bersama jarum jam sebagai pemahaman
akan hidup, rasa syukur, ikhlas, dan kerja keras. Terus menemaniku menjawab
pertanyaan-pertanyaan lain yang mengejar sepanjang usia ini.
Catatan 28
“Kita akan
selalu saling mengingatkan. Sepuluh tahun lagi, duapuluh tahun lagi, tigapuluh
tahun lagi, empat puluh tahun lagi, limapuluh tahun lagi. Tentang negeri-negeri
yang akan kita jelajahi. Dan disinilah kita sekarang: langkah pertama dari
perjalanan panjang ini. Iya kan?!”
-Juanda, antara 2 hari ulang tahun-