maaf, tapi aku memang
ingin dia mati!
tuhan kalian yang setia terselip di sela bibir..
di toilet, warung makan, ruang tunggu, atau terminal bis
mengepul asap mengepung syaraf membunuh fikir
tuhan kalian yang mendekam selalu di saku
mau ke sawah, ke kantor, ke pasar, atau toko buku
beku… pembuluh darah beku ditukar nafsu
tuhan kalian yang meruapkan kepul
saat sendirian, bergaul, atau berkumpul
mengisap asap dan kepedulian pun tumpul
tuhan kalian yang kalian beli dengan darah dan keringat
tapi toh aku selalu gagal berfikir dan mengingat
apa yang kalian korbankan demi beberapa menit nikmat
dan maaf, tapi aku memang ingin tuhan kalian mati!
(dari perjalanan penuh asap di selatan sumatra dan sedikit
teringat sebuah puisi panjang berjudul “tuhan sembilan senti” -karya taufik Ismail- dan teringat juga sebuah skripsi di Fapsi tentang korelasi perilaku mengasap
dengan kepekaan diri)
catatan:
1. Penggunaan “aku” dan “kalian” adalah untuk
menguatkan bahwa memang ada jarak dan perseberangan yang jauh
antara perokok dan nonperokok.
2. Terimakasih Allah, telah Kau kirimkan
lelaki-lelaki yang benci rokok ke kehidupanku. Bapak dan Erwin lalu
sekarang Mas Aan, dan beberapa lainnya.
- Silakan
buka website2 ini, kalau masih belum percaya bahaya
rokok: http://www.emrupdate.com/images/resources/newsletters/cigarette.jpg
