02
Apr
08

Antologi gelisah

I.
Tentang Kegelisahan

Gelisah-lah
yang mencari. Gelisah pula yang menemukan
Gelisah-lah yang menggeliat. Gelisah pula yang memecah cangkang
Gelisah-lah yang berjalan. Gelisah pula yang sampai ke tujuan


Gelisah
tidak duduk diam. Gelisah Berkecamuk diam-diam


II.
Lapar dan Hausku

Lapar
haus dalam tenang dan sejuknya ruang ber-AC
Atau Mereka yang menghitung kerikil dibawah lindasan roda gerobak sarat muatan
Mana ibadah menurutMu, Kekasihku?


III.
Limaratus Duapuluh

Disini, hidup adalah beberapa lembar berjumlah total limaratus duapuluh

Didalamnya bernaung anak, istri, keponakan, mertua dan satu saudara jauh
Sepotong dibagi tujuh. Dan tak perlu ada keluh

Kemewahan menjemput hanya
setahun sekali, tiap Idul Adha
Tapi, kebahagiaan  tersedia dimana-mana tanpa harus mengada-ada
"Orang Kecil cukup bahagia dengan karunia-karunia kecil"

Sahaja dan bahagia. Itu saja
satu-satunya kalimat dalam catatan harian kami

IV. Sapa Aku

Sapa aku
yang sunyi

Tegur
aku yang sepi

Waktu
aku merasa Kau jauuuuh sekaliiii

(Padahal
Kau masih selalu ditempat yang sama
Menungguku datang dengan tangan terbuka dan cemburu menyala-nyala
Atas segala sesuatu yang kusanding dan menduakanMu
Duhai Sang Maha Penyayang, terimakasih…)

V. Shirathal Mustaqiim

Mungkin Kau sampai bosan mengirimkan kami jalan lurus
yang tak pernah kami lirik dan urus


::Kolaborasi
sunyi, hujan, Maret, dan April 2008::
 

 

   




2 Responses to “Antologi gelisah”


  1. 1    Tutut April 22, 2008 at 4:23 am

    seperti biasa
    kata kata sunyi dan sepi
    coba deh
    aku bautin puisi yang ada kata ramai, hiruk pikuk dlsb
    bisa kan?

  2. 2    devi April 22, 2008 at 6:39 pm

    ahaha.. jgn cemaskan aku, tut! emang dasarnya suka yg sepi2;)
    tapi bolehlah usul-e, ntar bikin puisi yg agak semangat deh..

Leave a Reply