PROGO: ROMANTISME KELELAHAN…
Ditengah berisiknya roda (??) kereta Progo yang melaju ke arah Jogja, sebuah SMS masuk. “Cukup nyaman ‘kan disana, Dev?”. Aku membalasnya dengan senyuman lelah dan kata “Lumayanlah untuk ukuran seorang Devi”…
Sebagai anggota masyarakat (yang dari dulu hanya bergeser-geser di sekitar garis kemiskinan) aku cukup akrab dengan Progo, kereta ekonomi jurusan Stasiun Lempuyangan Jogja – Pasar Senen Jakarta. Sejak sering ke Jakarta dalam rangka golek gawean aku adalah pelanggan tetap Progo. Progo yang selalu telat 2-5 jam. Progo yang bau rokok. Progo yang selalu penuh sesak. Progo yang dilalulalangi pedagang asongan. Progo yang lampunya sering mati dan puanas minta ampun. Progo-ku..
Walau belakangan, jadi agak jarang naik Progo. Soalnya ga ada temen yang mau naik Progo lagi. Seiring naiknya taraf kehidupan orang-orang disekitarku, mereka memilih naik Senja Utama, Taksaka, atau bahkan garuda. Aku sendiri masih berminat meneruskan tradisi berdesak-desakan tiap mudik. Mudik bukan mudik tanpa desel-deselan..
Bagi yang belum pernah tahu, melihat, atau membayangkan seperti apakah bentuk kereta Progo itu, ada baiknya baca sedikit deskripsi ini. Seperti kebanyakan kereta Jogja-Jakarta, Progo terdiri dari sekitar 10 rangkaian gerbong bercat oranye-biru tua yang kusam. Kursinya keras dan jarak antarkursi sangat pendek, jadi selonjor kaki adalah hal mewah di kereta ini. Banyak jendela kacanya yang pecah karena ulah para calon penumpang yang selalu saja kekurangan tempat duduk (dan tempat lesehan) tiap libur panjang dan lebaran. Lampunya banyak yang sudah mati, kalaupun ada yang hidup bisa dipastikan nyalanya sudah “setengah mati”. Jakarta-Jogja bisa ditempuh dalam waktu 14 jam. Panas dan selalu riuh oleh pedagang asongan atau obrolan penumpang yang biasanya bervolume sama dengan teriakan. Prototipe penumpangnya, mayoritas laki-laki yang tak segan merokok meskipun penumpang disebelahnya nyaris pingsan karena sesak napas. Selepas jam 10 malam, lorong ditengah gerbong kereta akan penuh dengan gelaran koran dan tubuh yang saling tumpang tindih kelelahan. Yaa… kesimpulannya, bukan perjalanan yang menyenangkanlaah…
Tapi, kereta selalu punya daya magnet yang sangat kuat buatku. Bahkan kereta semacam Progo-pun. Ada sesuatu yang mengalir tenang ketika melihat sekitar yang masih bisa bersenda gurau meskipun panas dan berhimpitan. Ada kelegaan yang terhampar ketika menyaksikan dua orang dari Gunung Kidul yang merantau di Sumatra dan Jakarta bertemu di perjalanan. Ada keterpaksaan yang manis. Ada senyum yang memaksa muncul bersama tangis… Emang ga enak jadi orang miskin. Ga nyaman-pun terpaksa harus dinaiki, karena ga punya pilihan.
Tapi orang miskin (dan tokoh marginal lainnya) toh selalu mampu membangun mercusuar defense mechanism yang canggih. Ada bapak-bapak yang mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga sarjana hanya dengan gaji sekian rupiah. Ada Ibu-ibu yang mampu bertahan puluhan tahun hidup hanya dengan makan sekali sehari, agar anaknya bisa dapat jatah makan lebih banyak. Dan ada penumpang Progo yang tetap tertawa-tawa meskipun kepanasan, kelelahan, dan kesemutan. (Jadi inget, ada contoh lain juga. Got di depan kos-ku termasuk jorok dan airnya ga bisa ngalir, selalu keruh. Didasar got, lumut dan endapan sampah berwarna abu kehijauan menggumpal-gumpal. Di bagian atas, busa sabun cuci dan sabun mandi mengambang pucat. Tapi lihatlah…. Sepuluh.. dua puluh…bahkan berpuluh-puluh ikan cempli alias cethul berenang riang disana. Ternyata Tuhan memang selalu melengkapi makhluk-makhluknya dengan daya adaptasi yang mencengangkan…)
Tiket kereta Progo(harganya 38ribu), warnanya romantis ya.. pink. Progo, romantisme kelelahan..
