02
Jun
08

Tetenger*

Lupakah kita, dulu ketika sesosok bayi merah diadzani oleh Bapaknya yang gemetar dan di do’akan oleh sanak keluarganya, semoga menjadi anak yang sholeh-sholehah?

Lupakah kita, dulu ketika lidah kita belum lagi mampu melafazkan hajat, ibu kita bangun tengah malam demi anak bayinya yang menangis kelaparan? Berfikirkah ibu kita bahwa anak yang disusuinya itu akan jadi koruptor atau pembohong kelak?

Lupakah kita, ketika dari bibir-bibir kecil kita mengalun a-ba-ta yang pertama dan Ibu-Bapak kita lantas membelikan Juz ‘Amma dan Al-Qur’an kecil? “Anakku akan segera mengkhatamkan ini” kata mereka bangga.

Lupakah kita, ketika Ramadhan tiba Ibu kita susah payah membangunkan kita untuk sahur? Tetap telaten dengan rajukan kita ketika lapar dan haus di siang hari? Dan bersemangat membagi-bagi jatah kolak untuk buka puasa?

Lupakah kita kalau tiap lebaran, selalu ada satu setel baju dan sepasang sepatu baru untuk kita, adik, dan kakak kita (meskipun harga BBM dan Sembako naik sementara gaji bapak tak naik-naik juga)? Semuanya demi melihat tawa kita saat berparade keliling kampung dengan baju baru

Lupakah kita wajah pias cemas ibu kita ketika kita sakit dan cedera? Dengan hati-hati, ia membersihkan lecet di lutut sejatuh kita dari sepeda atau membalut kepala kita yang tergores gara-gara main layangan. Berfikirkah ibu kita bahwa anak yang ia obati akan jadi penipu dan pencuri kelak?

Lupakah kita saat pertama kali masuk kelas, menangis dan ingusan, takut oleh dunia yang serba asing dan satu-satunya yang hangat hanyalah rengkuhan ibu kita. “sekolah ini akan membuatmu jadi manusia berguna kelak…” bujuknya sambil mengusap air mata kita.

Lupakah kita saat terima raport pertama, dan ada angka satu disana? Seisi kelas bersorak mengelukan nama kita. “Inilah yang patut kita contoh. Inilah calon orang sukses. Calon pemimpin bangsa. Maka anak-anak semua, belajarlah yang giat…” Demikian kata guru dalam kata sambutan. Dan kepala kita menggelembung besar…

Lupakah kita saat lulus sekolah dasar, memasuki dunia putih-biru yang penuh gelembung-gelembung misteri testosteron dan progesteron? Malu-malu sekali waktu guru biologi menyebutkan kopulasi dan pembuahan. Cekikikan di bangku belakang membahas sistem reproduksi lawan jenis..

Lupakah kita saat suara pecah atau dada mulai membuncah? Dunia adalah serangkaian perubahan yang serba membingungkan. Dan betapa bijak senyum Ibu kita saat kita mengadukan sebercak darah haid pertama “itu wajar, anakku, semua wanita dewasa mengalaminya”. Dan esoknya, saat beberapa kakak kelas mulai berkirim salam manis, pipi-pipi kita memerah tomat…

Lupakah kita saat pertama kalinya celana panjang boleh bertandang ke sekolah yang disebut SMAN? Bangganya. Rangking satu tetap bertahan di raport kita semester demi semester. Dan berbagai julukan kian sering mampir: si genius, si cerdas, calon orang sukses, calon pemimpin bangsa…

Lupakah kita saat pertamakali memasuki gerbang sebuah kampus ternama? Ternganga di depan aulanya yang 10 kali lebar gedung SD kita. Lalu mulai menghafalkan mars dan hymne kampus dengan sepenuh hati. Dan selanjutnya, itulah yang mengalir bersama pembuluh darah tiap kali kita turun ke jalan dan berteriak mengenai keadilan.

Memang kita sudah lupa semuanya. Seperti juga semua memori masa lalu yang tinggal mengendap di ruang hati yang paling dasar dan remang-remang ditindih ribuan tawaran tentang kemewahan, kemudahan, fasilitas, dan kesenangan. Begitu pulalah semua do’a dan harapan masa lalu terkubur.

Kini kita yang sekarang adalah monster. Yang tak segan berbohong. Yang tak segan mencuri. Yang tak segan menipu. Yang tak segan korupsi. Yang tak segan membunuh. Yang tak segan memperkosa. Yang tak segan menjual diri. Yang tak segan diperkosa. Yang tak segan mengadudomba. Yang tak segan melukai. Yang tak segan mengorbankan saudara sendiri. Yang tak segan dengan arogansi. Yang tak segan dosa dan neraka. Yang tak segan pada Tuhan…

(Tuhan, apakah segala sesuatu yang saat ini kulihat sebagai putih dan kusentuh sebagai lembut adalah ia seperti adanya?

Tuhan, ketika aku tak lagi melihat putih dan merasakan lembut, apakah karena mataku sudah rabun? ataukah karena aku terlalu jauh berjalan dalam remang-remang?)

ttd.

gadis kecil disebuah kotak mungil

*Tetenger: tanda atau prasasti yang mengingatkan orang, mencegah orang menjadi lupa.




2 Responses to “Tetenger*”


  1. 1    Shang June 19, 2008 at 8:41 am

    Pesenku, ( wuih sok bijak.)
    Merangkai kata-kata tentang cinta boleh aja, nggak ada yang ngarang. Nggak ada salahnya juga.
    Tapi sebanyak apapun yang kamu kata dan cerita tentang cinta.
    Itu hanya kulit luarnya saja, karena cinta adalah sebuah rahasia besar, yang tak akan pernah terungkap dengan kata.
    Sebanyak apapun juga.
    Karena cinta, adalah memandang besar sampai pada hal-hal kecil dari sang kekasih.
    Dan memandang kecil, hal-hal sekalipun itu besar, dari diri sendiri.
    Jika kamu tidak merasakannya, kamu patut bertanya, dimana adanya cinta?

  2. 2    Shang June 19, 2008 at 8:59 am

    O,…Jadi dulu kamu suka main layang-layang? Nggak kebayang (Nggak nyambung banget)!
    Suka nulis juga ya?
    Kalau gitu kamu perlu membaca Novel paling ancur sedunia fana ini.
    Don’t missed!!

Leave a Reply