Author Archive for ailyms

01
Feb

catatan buat bos-ku

Kepadamu, aku hanya berjanji di atas materai enam ribu

Tapi kepada suamiku, aku berjanji atas nama Tuhanku

Dengan membawa serta nasib dan seluruh sisa hidupku

Maka, hari ini juga ku ikrarkan….aku memilih telat setengah jam demi sarapan dengan suamiku

Aku memilih tidak lembur sabtu-minggu demi bersih-bersih rumah mungil bersama suamiku

Aku memilih mematikan hapeku diluar jam kerja demi istirahat tenang bersama suamiku

*&^%^^&%&””{(*&%–

31
Jul

Harus kukirim kemana…??!


Kurangkumkan untukmu bunga
perdu sebelum langit jatuh kelabu

Pada bulirnya yang sahaja
kutiupkan cinta

Sisa-sisa embun gemuk masih
bergelayut manja

Aahh…. padanya kusaksikan
bahwa hatiku memang telah kalah

Kekalahan yang kupilih melalui
caraku sendiri tanpa seorangpun serta

Dan kuikat semuanya dengan pita
warna pelangi


Ku tunggu kau di padang
ilalang yang biasanya

Angin bertanya, kemana aku
ingin dibawanya terbang

Kusebutkan namamu, dan angin
berlalu dengan senyum tersipu

Matahari menyapa, apa yang
kucari sendiri di tempat sepi

Kusebutkan namamu, dan matahari
bernyanyi tentang lagu seri

Burung-burung mengajak, kemana
aku ingin diantar bertualang

Kusebutkan namamu, dan
burung-burung berkicau riang

Karenamu-kah dunia begini ceria?!


Tapi sampai menjelang siang,
kau tak datang

Sementara aku mulai bosan
bermain dengan hati sendiri

Dan lama-lama aku benar-benar
bosan bercakap dengan mulut sendiri

Kau benar-benar tak datang.


Ketika tak ada alamat yang bisa
kutuju, harus kemanakah kukirimkan salamku?

Bunga perdu-ku memang tak layu

Tapi tak kau lihatkah di
mataku, ada yang berlinang?!

Ketika tak ada bahu yang bisa
kusandari, harus kemanakah kulepaskan tangisku?

Tak ada yang hilang….


Tak ada yang hilang, langit
masih terang benderang

Tak ada yang hilang,
burung-burung masih bernyanyi riang

Tak ada yang hilang, aku hanya
merasa sepi….

::buatmu yang kupanggil dengan
hati::

02
Jun

Tetenger*

Lupakah kita, dulu ketika sesosok bayi merah diadzani oleh Bapaknya yang gemetar dan di do’akan oleh sanak keluarganya, semoga menjadi anak yang sholeh-sholehah?

Lupakah kita, dulu ketika lidah kita belum lagi mampu melafazkan hajat, ibu kita bangun tengah malam demi anak bayinya yang menangis kelaparan? Berfikirkah ibu kita bahwa anak yang disusuinya itu akan jadi koruptor atau pembohong kelak?

Lupakah kita, ketika dari bibir-bibir kecil kita mengalun a-ba-ta yang pertama dan Ibu-Bapak kita lantas membelikan Juz ‘Amma dan Al-Qur’an kecil? “Anakku akan segera mengkhatamkan ini” kata mereka bangga.

Lupakah kita, ketika Ramadhan tiba Ibu kita susah payah membangunkan kita untuk sahur? Tetap telaten dengan rajukan kita ketika lapar dan haus di siang hari? Dan bersemangat membagi-bagi jatah kolak untuk buka puasa?

Lupakah kita kalau tiap lebaran, selalu ada satu setel baju dan sepasang sepatu baru untuk kita, adik, dan kakak kita (meskipun harga BBM dan Sembako naik sementara gaji bapak tak naik-naik juga)? Semuanya demi melihat tawa kita saat berparade keliling kampung dengan baju baru

Lupakah kita wajah pias cemas ibu kita ketika kita sakit dan cedera? Dengan hati-hati, ia membersihkan lecet di lutut sejatuh kita dari sepeda atau membalut kepala kita yang tergores gara-gara main layangan. Berfikirkah ibu kita bahwa anak yang ia obati akan jadi penipu dan pencuri kelak?

Lupakah kita saat pertama kali masuk kelas, menangis dan ingusan, takut oleh dunia yang serba asing dan satu-satunya yang hangat hanyalah rengkuhan ibu kita. “sekolah ini akan membuatmu jadi manusia berguna kelak…” bujuknya sambil mengusap air mata kita.

Lupakah kita saat terima raport pertama, dan ada angka satu disana? Seisi kelas bersorak mengelukan nama kita. “Inilah yang patut kita contoh. Inilah calon orang sukses. Calon pemimpin bangsa. Maka anak-anak semua, belajarlah yang giat…” Demikian kata guru dalam kata sambutan. Dan kepala kita menggelembung besar…

Lupakah kita saat lulus sekolah dasar, memasuki dunia putih-biru yang penuh gelembung-gelembung misteri testosteron dan progesteron? Malu-malu sekali waktu guru biologi menyebutkan kopulasi dan pembuahan. Cekikikan di bangku belakang membahas sistem reproduksi lawan jenis..

Lupakah kita saat suara pecah atau dada mulai membuncah? Dunia adalah serangkaian perubahan yang serba membingungkan. Dan betapa bijak senyum Ibu kita saat kita mengadukan sebercak darah haid pertama “itu wajar, anakku, semua wanita dewasa mengalaminya”. Dan esoknya, saat beberapa kakak kelas mulai berkirim salam manis, pipi-pipi kita memerah tomat…

Lupakah kita saat pertama kalinya celana panjang boleh bertandang ke sekolah yang disebut SMAN? Bangganya. Rangking satu tetap bertahan di raport kita semester demi semester. Dan berbagai julukan kian sering mampir: si genius, si cerdas, calon orang sukses, calon pemimpin bangsa…

Lupakah kita saat pertamakali memasuki gerbang sebuah kampus ternama? Ternganga di depan aulanya yang 10 kali lebar gedung SD kita. Lalu mulai menghafalkan mars dan hymne kampus dengan sepenuh hati. Dan selanjutnya, itulah yang mengalir bersama pembuluh darah tiap kali kita turun ke jalan dan berteriak mengenai keadilan.

Memang kita sudah lupa semuanya. Seperti juga semua memori masa lalu yang tinggal mengendap di ruang hati yang paling dasar dan remang-remang ditindih ribuan tawaran tentang kemewahan, kemudahan, fasilitas, dan kesenangan. Begitu pulalah semua do’a dan harapan masa lalu terkubur.

Kini kita yang sekarang adalah monster. Yang tak segan berbohong. Yang tak segan mencuri. Yang tak segan menipu. Yang tak segan korupsi. Yang tak segan membunuh. Yang tak segan memperkosa. Yang tak segan menjual diri. Yang tak segan diperkosa. Yang tak segan mengadudomba. Yang tak segan melukai. Yang tak segan mengorbankan saudara sendiri. Yang tak segan dengan arogansi. Yang tak segan dosa dan neraka. Yang tak segan pada Tuhan…

(Tuhan, apakah segala sesuatu yang saat ini kulihat sebagai putih dan kusentuh sebagai lembut adalah ia seperti adanya?

Tuhan, ketika aku tak lagi melihat putih dan merasakan lembut, apakah karena mataku sudah rabun? ataukah karena aku terlalu jauh berjalan dalam remang-remang?)

ttd.

gadis kecil disebuah kotak mungil

*Tetenger: tanda atau prasasti yang mengingatkan orang, mencegah orang menjadi lupa.

26
May

::PERJALANAN::

PROGO: ROMANTISME KELELAHAN…

Ditengah berisiknya roda (??) kereta Progo yang melaju ke arah Jogja, sebuah SMS masuk. “Cukup nyaman ‘kan disana, Dev?”. Aku membalasnya dengan senyuman lelah dan kata “Lumayanlah untuk ukuran seorang Devi”…
Sebagai anggota masyarakat (yang dari dulu hanya bergeser-geser di sekitar garis kemiskinan) aku cukup akrab dengan Progo, kereta ekonomi jurusan Stasiun Lempuyangan Jogja – Pasar Senen Jakarta. Sejak sering ke Jakarta dalam rangka golek gawean aku adalah pelanggan tetap Progo. Progo yang selalu telat 2-5 jam. Progo yang bau rokok. Progo yang selalu penuh sesak. Progo yang dilalulalangi pedagang asongan. Progo yang lampunya sering mati dan puanas minta ampun. Progo-ku..
Walau belakangan, jadi agak jarang naik Progo. Soalnya ga ada temen yang mau naik Progo lagi. Seiring naiknya taraf kehidupan orang-orang disekitarku, mereka memilih naik Senja Utama, Taksaka, atau bahkan garuda. Aku sendiri masih berminat meneruskan tradisi berdesak-desakan tiap mudik. Mudik bukan mudik tanpa desel-deselan.. :D
Bagi yang belum pernah tahu, melihat, atau membayangkan seperti apakah bentuk kereta Progo itu, ada baiknya baca sedikit deskripsi ini. Seperti kebanyakan kereta Jogja-Jakarta, Progo terdiri dari sekitar 10 rangkaian gerbong bercat oranye-biru tua yang kusam. Kursinya keras dan jarak antarkursi sangat pendek, jadi selonjor kaki adalah hal mewah di kereta ini. Banyak jendela kacanya yang pecah karena ulah para calon penumpang yang selalu saja kekurangan tempat duduk (dan tempat lesehan) tiap libur panjang dan lebaran. Lampunya banyak yang sudah mati, kalaupun ada yang hidup bisa dipastikan nyalanya sudah “setengah mati”. Jakarta-Jogja bisa ditempuh dalam waktu 14 jam. Panas dan selalu riuh oleh pedagang asongan atau obrolan penumpang yang biasanya bervolume sama dengan teriakan. Prototipe penumpangnya, mayoritas laki-laki yang tak segan merokok meskipun penumpang disebelahnya nyaris pingsan karena sesak napas. Selepas jam 10 malam, lorong ditengah gerbong kereta akan penuh dengan gelaran koran dan tubuh yang saling tumpang tindih kelelahan. Yaa… kesimpulannya, bukan perjalanan yang menyenangkanlaah…
Tapi, kereta selalu punya daya magnet yang sangat kuat buatku. Bahkan kereta semacam Progo-pun. Ada sesuatu yang mengalir tenang ketika melihat sekitar yang masih bisa bersenda gurau meskipun panas dan berhimpitan. Ada kelegaan yang terhampar ketika menyaksikan dua orang dari Gunung Kidul yang merantau di Sumatra dan Jakarta bertemu di perjalanan. Ada keterpaksaan yang manis. Ada senyum yang memaksa muncul bersama tangis… Emang ga enak jadi orang miskin. Ga nyaman-pun terpaksa harus dinaiki, karena ga punya pilihan.
Tapi orang miskin (dan tokoh marginal lainnya) toh selalu mampu membangun mercusuar defense mechanism yang canggih. Ada bapak-bapak yang mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga sarjana hanya dengan gaji sekian rupiah. Ada Ibu-ibu yang mampu bertahan puluhan tahun hidup hanya dengan makan sekali sehari, agar anaknya bisa dapat jatah makan lebih banyak. Dan ada penumpang Progo yang tetap tertawa-tawa meskipun kepanasan, kelelahan, dan kesemutan. (Jadi inget, ada contoh lain juga. Got di depan kos-ku termasuk jorok dan airnya ga bisa ngalir, selalu keruh. Didasar got, lumut dan endapan sampah berwarna abu kehijauan menggumpal-gumpal. Di bagian atas, busa sabun cuci dan sabun mandi mengambang pucat. Tapi lihatlah…. Sepuluh.. dua puluh…bahkan berpuluh-puluh ikan cempli alias cethul berenang riang disana. Ternyata Tuhan memang selalu melengkapi makhluk-makhluknya dengan daya adaptasi yang mencengangkan…)

Tiket kereta Progo(harganya 38ribu), warnanya romantis ya.. pink. Progo, romantisme kelelahan..

250508_0149_3

04
May

Surat cinta terbuka (2)

aku jatuh cinta padamu pada suatu malam

di sisi sebuah stasiun pusat kota

pada matamu yang menyala-nyala

pada adrenalinmu yang curah karena gelisah

tentang hidup orang kecil yang eksotis dalam keburamannya

dan aku ada pada semesta yang tidak dimana-mana

tidak menolong, tidak menjamah, tidak berduka. biasa saja.

dan aku semakin jatuh cinta ketika

jiwamu menjalar jauh ke kegelapan sudut jalan

mencari tubuh-tubuh renta yang miskin raga

matamu sendu melihat sang tua jelata merasa kaya tiba-tiba

dan kau bilang “lelahku sudah reda, sayang…”

::sepaket dengan doa, lancarlah thesis tentang tunawisma
itu::

awal mei 2008

21
Apr

maaf, tapi aku memang
ingin dia mati!

tuhan kalian yang setia terselip di sela bibir..

di toilet, warung makan, ruang tunggu, atau terminal bis

mengepul asap mengepung syaraf membunuh fikir

tuhan kalian yang mendekam selalu di saku

mau ke sawah, ke kantor, ke pasar, atau toko buku

beku… pembuluh darah beku ditukar nafsu

tuhan kalian yang meruapkan kepul

saat sendirian, bergaul, atau berkumpul

mengisap asap dan kepedulian pun tumpul

tuhan kalian yang kalian beli dengan darah dan keringat

tapi toh aku selalu gagal berfikir dan mengingat

apa yang kalian korbankan demi beberapa menit nikmat

dan maaf, tapi aku memang ingin tuhan kalian mati!

(dari perjalanan penuh asap di selatan sumatra dan sedikit
teringat sebuah puisi panjang berjudul “tuhan sembilan senti” -karya taufik Ismail- dan teringat juga sebuah skripsi di Fapsi tentang korelasi perilaku mengasap
dengan kepekaan diri)

catatan:

1. Penggunaan “aku” dan “kalian” adalah untuk 
   menguatkan bahwa memang ada jarak dan perseberangan yang jauh
antara      perokok dan nonperokok.

2. Terimakasih Allah, telah Kau kirimkan    
lelaki-lelaki yang benci rokok ke kehidupanku. Bapak dan Erwin lalu 
   sekarang Mas Aan, dan beberapa lainnya.

  1. Silakan
              buka website2 ini, kalau masih belum percaya bahaya
         rokok: http://www.emrupdate.com/images/resources/newsletters/cigarette.jpg

Cigarette_3

11
Apr

::april, suatu senja::


ke selatan, kau bertemu lautku

ke timur, kau berjumpa matahariku

ke utara, kau bersua gunungku

ke barat, kau bersatu dengan senjaku


aku ada dimanapun kau menghadap

aku ada bagaimanapun kau berharap

02
Apr

Antologi gelisah

I.
Tentang Kegelisahan

Gelisah-lah
yang mencari. Gelisah pula yang menemukan
Gelisah-lah yang menggeliat. Gelisah pula yang memecah cangkang
Gelisah-lah yang berjalan. Gelisah pula yang sampai ke tujuan


Gelisah
tidak duduk diam. Gelisah Berkecamuk diam-diam


II.
Lapar dan Hausku

Lapar
haus dalam tenang dan sejuknya ruang ber-AC
Atau Mereka yang menghitung kerikil dibawah lindasan roda gerobak sarat muatan
Mana ibadah menurutMu, Kekasihku?


III.
Limaratus Duapuluh

Disini, hidup adalah beberapa lembar berjumlah total limaratus duapuluh

Didalamnya bernaung anak, istri, keponakan, mertua dan satu saudara jauh
Sepotong dibagi tujuh. Dan tak perlu ada keluh

Kemewahan menjemput hanya
setahun sekali, tiap Idul Adha
Tapi, kebahagiaan  tersedia dimana-mana tanpa harus mengada-ada
"Orang Kecil cukup bahagia dengan karunia-karunia kecil"

Sahaja dan bahagia. Itu saja
satu-satunya kalimat dalam catatan harian kami

IV. Sapa Aku

Sapa aku
yang sunyi

Tegur
aku yang sepi

Waktu
aku merasa Kau jauuuuh sekaliiii

(Padahal
Kau masih selalu ditempat yang sama
Menungguku datang dengan tangan terbuka dan cemburu menyala-nyala
Atas segala sesuatu yang kusanding dan menduakanMu
Duhai Sang Maha Penyayang, terimakasih…)

V. Shirathal Mustaqiim

Mungkin Kau sampai bosan mengirimkan kami jalan lurus
yang tak pernah kami lirik dan urus


::Kolaborasi
sunyi, hujan, Maret, dan April 2008::
 

 

   

30
Mar

Hujan, Jalan, Sunyi, dan Ketakfahaman: Sebuah Lamunan (4)


Sapamu terbawa angin
Hinggap di pucuk dingin

Membekaskan sebaris paragraf kosong
Mencoba mengejanya membuatku merasa sia-sia

::Maret akhir::
(Ternyata aku masih juga bocah perempuan kecil
Yang rentan luka dan dosa
Tapi aku belum mau pulang
Biar, gerimis akan menjadi payungku
Sakit akan menjadi guruku)

27
Mar

::kuliner:: yang lezat dan hangat dari Muntilan

Bulan maret, hujan masih rajin meng-apeli Muntilan.  Sore itu, meluncur dari Jogja dalam cuaca mendung. Sampai di Muntilan sudah gelap, ba’da magrib, dan karena sudah kelaparan langsung ke daerah Jalan Sayangan. Dingin-dingin begini, enaknya yang anget-anget. Minum wedang ronde atau makan bakso… wuuiiiiiiiiihh… tapi malam itu, ada menu lain yang lebih menggoda :D

Disepanjang jalan Sayangan, bederet-deret warung tenda sudah mulai ramai pengunjung. Aneka aroma yang nyam-nyam menyebar dari tungku-tungku yang mulai menyala. Ada aroma sate ayam dan kambing, aroma nasi goreng, aneka macam mie, dan… di ujung sana, menu yang jadi target saya malam itu: tongseng jamur!

Tak lama setelah duduk dan memesan, segelas teh hangat terhidang (seksinyaaaa teh manis itu ditengah kedinginan saya!). warung tenda itu tak terlalu mencolok dibanding warung-warung lain, bahkan relatif lebih kecil, ukurannya sekitar 4×3 M. Dengan penerangan dua buah petromaks, dilayani dua bapak-bapak, tiga bangku panjang, spanduk warna kuning dengan tulisan merah kecil-kecil…nyaris tak ada yang istimewa.

Ketika sedang celingukan mengamati seisi warung itulah, tiba-tiba breeesssss…hujan turun dengan derasnya. Untungnya makanan sudah siap, jadi saya terhindar dari bencana kelaparan. Seporsi tongseng jamur terdiri dari semangkung tongseng jamur dan sepiring nasi putih yang mengepul hangat. nyamm..
230308_0237

Tongseng jamur berisi campuran jamur shiitake yang dipotong kecil-kecil, suwiran daging ayam, telur ayam kocok, dan irisan daun kobis yang berendam dalam kuah kuning tongseng. Bagi yang doyan pedes, diatasnya ditambah taburan cabe rawit iris. Bagi orang yang menghindari daging kambing tapi tergila-gila kelezatan tongseng, mungkin menu satu ini bisa dijadikan referensi. Apalagi, di warung ini jamurnya nggak bau tanah dan pas matangnya. O iya, satu lagi yang paling penting, ga mahal.. cukup 7.000/ porsi plus 1.000 untuk minuman hangatnya.

Selesai makan, alhamdulillah, hujan reda. Pulanglah saya ke rumah dengan hati riang dan perut kenyang, sambil menenteng bungkusan berisi 2 porsi tongseng jamur buat oleh-oleh.

(Tulisan ini sebagai pengurang rasa bersalah saya karena tiap kali ditanya "Di Muntilan banyak makanan enak to? Saya dulu pernah mampir di warung Soto di dekat pasar, enak banget. Nasi goreng kambing di daerah Tape Ketan juga enak banget. Belum lagi Soto empal di jalan Veteran… itu pernah masuk ke kolom kuliner Kompas lho. Iya kan, Dev? kamu pasti pernah nyobain semua?". Saya nggak tau harus jawab apa, maklum anak rumahan, ga pernah beli makan diluar, ga tau makanan enak di mana. Sebuah artikel malah menyebut bahwa Muntilan banyak menyimpan koleksi kuliner nusantara. Aaahhh…Muntilan, I love U ;)