Archive Page 2

27
Mar

WHEN I’M FALL IN LOVE

I. Kalau Kau Pergi

Kalau kau mau pergi,

Jangan lupa bawa hatimu dan masukkan aku kedalamnya

Tutup rapat dan dekaplah kemanapun melangkah

II. Be my husband please…

Sayang,

Menikahlah denganku

Dan jadilah ayah bagi anak-anak kita

Be my husband please…

(27 Maret 2008)

He he he :D Puisi ngaco! dasar devi!

24
Mar

Hujan, Jalan, Sunyi, dan Ketakfahaman: Sebuah Lamunan (3)

I
Senja meranum di matamu. Lelah dan resah
Dan aku tak lagi punya nyali untuk memetiknya
Hujan terrangkum di bibirmu. Sendu dan kelu
Tapi aku tak lagi mampu untuk mengejanya

Musim sedang tak bersahabat, Kawan…
Kau tahu itu. Lalu kenapa kau masih duduk disitu?
Masih mengirim pesan lewat sunyi, matahari, hujan
dan segala sesuatu yang susah dimengerti?
Sedang aku tak dapat lagi menjawabnya…

Pulanglah ke rumah. Tidur dan istirahatlah
Kau masih bocah kecil yang tak kebal dosa dan luka
Yang bahkan tak dapat mengerti kenapa senja begitu cepat pergi
Maka pulanglah…

(Sekali waktu, kalau kau mau aku bisa mampir lagi sebentar)

II
Ketika duri telah menyatu didagingmu dan luka bersekutu di jiwamu
Racunnya baru mengendap, menusuk menancap
Kau gugur jiwa dalam hitungan kilat
Tapi sejarahmu tak lagi bisa kucatat
Balut, Balutlah sendiri. Patah, patahkanlah sendiri

:::akhir Maret; malam, pagi, siang, dan malamnya lagi:::

10
Mar

Catatan 24

“Kamu siapa?” Demikian tanya Resi
Parasurama pada Radheya ketika anak muda yang tak jelas asal usulnya itu
mengetuk pintu gerbang padepokan Sang Resi. Tentu tujuan Radheya adalah untuk
menimba berbagai macam ilmu di padepokan itu. Yang diinginkan Sang Resi dalam
pertanyaan dua kata itu bukan hanya jawaban semacam nama atau asal, tapi juga
masa lalu dan masa depan si calon murid (petikan dari Catatan Pinggir 3,
Goenawan Mohammad).

Dan bukankah pertanyaan itu juga
yang harus kita ajukan pada diri kita?! Kalau tak mungkin menanyakannya setiap
hari, mungkin ada momen tertentu (tahun baru, pasca kelulusan, pascanikah,
ulang tahun, dll) yang mengharuskan kita bercakap-cakap dengan jujur pada diri
kita sendiri. Dan seperti yang dialami Radheya, memang tak mudah menjawab
pertanyaan itu. Apalagi ketika kita berhadapan dengan sederet panjang target
yang tak tercapai setelah pergulatan hidup yang cukup panjang (pengalaman
pribadi, Red :D).

Target yang tak
atau belum tercapai, adalah stressor terkuat dalam kehidupan manusia. Piaget,
seorang Psikolog perkembangan, telah membuat suatu pemetaan tahap hidup manusia
puluhan tahun lalu. Hasilnya adalah serangkaian tahap (diistilahkan sebagai
“tugas perkembangan”) yang harus dicapai oleh manusia pada usia-usia tertentu
agar tetap mampu hidup ‘normal’. Ketika tugas perkembangan ini tidak terpenuhi,
maka manusia akan mengalami kompleks abnormalitas. Bukankah Piaget juga bicara
tentang target dan keterpenuhannya?

Misalnya, pada
usia dewasa muda (19 – 29 tahun) tugas perkembangan seseorang adalah memiliki
hubungan romantik dengan lawan jenis dan memiliki hidup mandiri (bekerja).
Seseorang yang pada usia tersebut belum memiliki pasangan dan belum bekerja,
kemungkinan besar akan mengalami kegelisahan dan dapat memicu stres. Tapi toh
hidup belum akan berhenti. Kegelisahan dapat berubah jadi stres, tapi juga bisa
menyeret kita pada perjuangan memerangi kegelisahan itu sendiri.

Pada banyak
situasi, perbedaan itulah yang membuat satu orang berhasil dan lainnya tidak.
Ketika kita mampu memilih untuk membunuh kegelisahan alih-alih larut
didalamnya, saat itulah kita sudah mulai menjawab pertanyaan “kamu siapa?”
tadi.

Dan jawaban
pertanyaan “kamu siapa?” bukan sesuatu yang konstan, yang berhenti setelah satu
kondisi (atau tugas perkembangan, menurut istilah Piaget) tercapai. Karena
itulah, dengan berbekal banyak kegelisahan dan sedikit pikiran, aku beranikan
diri untuk kembali bertanya “kamu siapa?” pada diriku sendiri tepat ketika
usiaku beranjak 24.

Kuharap,
pertanyaan dan jawaban itu tidak hanya terhenti sebagai pertanyaan dan jawaban
sebagai apa adanya tapi akan terus berputar bersama jarum jam sebagai pemahaman
akan hidup, rasa syukur, ikhlas, dan kerja keras. Terus menemaniku menjawab
pertanyaan-pertanyaan lain yang mengejar sepanjang usia ini.

Catatan 28

“Kita akan
selalu saling mengingatkan. Sepuluh tahun lagi, duapuluh tahun lagi, tigapuluh
tahun lagi, empat puluh tahun lagi, limapuluh tahun lagi. Tentang negeri-negeri
yang akan kita jelajahi. Dan disinilah kita sekarang: langkah pertama dari
perjalanan panjang ini. Iya kan?!”

-Juanda, antara 2 hari ulang tahun-

07
Feb

ALAMATMU

Ada satu alamat
yang tak pernah kau cantumkan
di agenda, buku catatan, kartu nama maupun KTPmu
padahal kesinilah kau akan selalu pulang
disini alamatmu: hatiku!

(Cinta memang tak memerlukan wilayah khusus untuk tumbuh, tapi ia perlu merasa cukup aman untuk mendiami hatimu, tanpa takut digusur atau terjebak dalam labirynth janji-janji. Jadi, sekarang disinilah aku, didepan pintumu siap untuk mengetuknya. Dan sudah siapkah kau membukanya setiap waktu aku mengetuk?!)
Sebuah pertanyaan untuk diri sendiri.

05
Feb

… (baca: TIGA TITIK)*

aku kali engkau sama dengan kita
hatiku tambah hatimu sama dengan cinta
jiwaku dikurangi jiwamu sama dengan rindu
senyumku dibagi senyummu sama dengan candu

13 kilometer setiap malam. seringkali menembus hujan
engkau mendung, dan akulah gerimismu
engkau hujan, dan akulah banjirmu
dan malam dengan rela hati selalu hujan. hujan yang manis
terlalu manis untuk tidak direguk
maka gelap adalah saksi ketika bercangkir-cangkir kopi manis
(airnya air hujan, gulanya gula hujan, kopinya kopi hujan)
kita reguk…

-beberapa hari setelah batu tulis banjir dan kali malang tetap kering kerontang-
* Judul ini terinspirasi dari prolog dan epilog sebuah instan messaging, di suatu sore yang dingin, 80022050.

02
Jan

Muntilan: Moon Island

-Laporan perjalanan liburan :D-

 Sebuah sore
yang mendung di pusat Jakarta mengantarkan
memoriku pada kota kecil -yang meskipun bukan tempat lahirku- tapi menyimpan warna putih-merah,
putih-biru, sampai putih-abu masa lalu. Muntilan. Dengan rendah hati, karena
menyadari kelemahan dalam mendeskripsikan arah angin, saya hanya dapat
menjelaskan bahwa Muntilan ini terletak di antara jalan raya Jogja-Magelang,
sekitar 25 KM dari Jogja. Catatan tentang kota kecil yang menyimpan pesona heterogenitas.

P1070235_1
Sm1frame30_1

 

Di atas adalah
"gerbang" masuk Muntilan dari arah Jogja. jadi ingat, tiap kali
pulang dari luar kota dan melihat papan nama warna biru dengan tulisan putih "MUNTILAN"
yang nyaris pudar itu, ada yang dingin mengguyur dada. mungkin karena memang
udara Muntilan yang relatif lebih sejuk dari pada Jogja. mungkin juga karena
secara psikologis, alam bawah sadar mendiktekan bahwa tulisan itu selalu
berasosiasi dengan rumah dan makan gratis (maklum, anak kos :D).

Memasuki
Muntilan dari arah Jogja, kita akan disuguhi sebuah pemandangan dari
"dunia lain". Seolah memasuki abad lampau, karena sepanjang jalan,
ribuan patung dan kerajinan berbahan dasar batu menggoda kita untuk tak
mengedipkan mata. Sentra kerajinan batu yang cukup terkenal adalah di Ds. Taman Agung dan
Kota Mungkid.
Industri kerajinan ini telah berlangsung puluhan tahun,
menawarkan berbagai ukuran patung batu dengan variasi bentuk dan harga yang
beragam. Bahan
baku biasanya didatangkan dari
Wonosari (Gunungkidul), marmer dari Tulungagung dan Makassar.
Hasil kerajinan batu ini, selain dinikmati oleh konsumen lokal dan nasional,
juga banyak dikagumi oleh turis dari Italia, Inggris, Malaysia, Kamboja,
Vietnam, Thailand, dan Myanmar. (http://www.suaramerdeka.com/harian/0407/30/nas07.htm)

Melanjutkan
perjalanan, masih diujung Muntilan, pendatang akan menemukan sebuah perempatan
yang banyak menyajikan berbagai oleh-oleh khas Muntilan (juga Magelang, Jogjakarta, dan
sekitarnya). Dua yang paling terkenal adalah Tape ketan dan Gethuk.
Tape ketan ini dapat dideskripsikan sebagai makanan basah dan lembek dengan
rasa manis-asam, (biasanya) berwarna hijau, dan berbau khas sebagai hasil
fermentasi dari beras ketan (Oryza Sativa Glotinosa). Sementara, yang
bernama "Gethuk" itu terbuat dari Ketela pohon (manihot utilissima) atau ubi (Manihot esculenta) yang di giling atau dihaluskan, dengan citarasa
manis plus harum daun pandan atau vanili. Biasanya dibuat warna-warni dan
disajikan bersama parutan kelapa muda. Makanan lain bagi penggemar "klethik-klethik" adalah slondhok atau lanting yang juga berbahan dasar ketela pohon.            
                            
                     
             
         


Gethuk2_1
Imagestape

Memasuki
tengah Muntilan,
ada dua lokasi yang cukup terkenal (paling tidak di Jawa). Dua-duanya merupakan
pusat perguruan spiritual, yang satu adalah Pondok Pesantren Watu Congol (Gunung Pring) dan satu lagi adalah Perguruan Van Lith. Ponpes Watu Congol
yang terletak di belahan kiri jalan utama Muntilan merupakan salah satu pondok
pesantren NU yang didirikan oleh Syaikh Al-Haj Dalhar bin Abdurrahman. Tercatat
beberapa beberapa ulama besar pernah menimba ilmu di Pondok ini, seperti Kh
Hamim Jazuli (Gus Mik), Syaikh Ahmad Jauhari Umar penulis Kitab Manakib
Jawahirul Ma’any dll, dan masih banyak lagi. (http://borok-bangsaku.blogspot.com/2007/11/super-nova.html).
Disini pusat belajar agama Islam. Walau belum pernah menyaksikan langsung, tapi
lagu “Kota Santri” sangat cocok untuk mendeskripsikan suasana di Gunung Pring
ini. Santri-santriwati pulang pergi
mengaji di pagi dan sore hari. Lantunan ayat Al-Qur’an. Masyarakat yang
berduyun-duyun menghadiri pengajian..

Perguruan Van
Lith diambil dari nama pastor FGJ Van Lith SJ (1863-1926) yang merintis
pendirian sebuah sekolah desa dan sebuah bangunan gereja yang sederhana pada akhir
abad ke-19, 1897. Gereja kecil dan sekolah desa itu kemudian berkembang menjadi
satu kompleks gedung-gedung yang di tahun 1911 dinamai St Franciscus Xaverius
College Muntilan. Selain itu, ada juga Pastor R Sandjaja Pr yang terbunuh tahun
1948. Mereka berdua dimakamkan di
lokasi yang sama, Pemakaman Muntilan, salah satu tempat ziarah umat Katolik di
 Jawa. (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0312/27/natal/768772.htm).
Rutinitas di kompleks ini tak jauh berbeda dengan kesibukan di Gunung Pring.
Tiap pagi dan sore, ada saja pemeluk taat yang menghadiri berbagai kegiatan
keagamaan di kompleks ini.

Sepanjang jalan utama
Muntilan –Jl. Pemuda- merupakan daerah Pecinan, yaitu pemukiman komunitas Cina
yang kebanyakan berupa ru-ko. Di ruas jalan itulah pusat perekonomian Muntilan.
Apalagi akhir-akhir ini, mulai banyak toko modern yang menerapkan sistem
swalayan sehingga konsumen dari daerah pelosok kerap beranjangsana sekedar
untuk melihat-lihat ”kekotaan” Muntilan yang terpajang di sepanjang Jalan
Pemuda ini. Di tengah ruas jalan, kita kembali disuguhi bukti heterogenitas Muntilan,
sebuah Klentheng Kong Hu Cu. Lalu di
pangkal jalan, lagi-lagi pusat perekonomian: Pasar Muntilan. Macam-macam
dagangan mulai dari kebutuhan sehari-hari, ternak dan unggas, sayur dan buah,
pakaian, sampai furnitur digelar di pasar ini.

O iya, bagi penyuka wisata kuliner, bisa mampir ke
daerah jalan Sayangan dan Tambakan. Di kedua lokasi tersebut, kita bisa
memperoleh macam-macam makanan seperti Kupat Tahu mBlabak, soto dan bakso,
aneka makanan olahan daging kambing, sampai gudeg. Rasanya…mmmmhh…silakan
coba sendiri.

Sebagai daerah yang relatif dekat dengan Gunung Merapi, ada objek wisata yang
sangat menarik, yaitu Ketep Pass
atau gardu pandang Ketep. Dari
Muntilan, kita bisa melalui rute Talun untuk sampai kesana. Sesuai namanya, di
Ketep Pass ini kita bisa menyaksikan Gunung Merapi dari dekat. Lokasi ini
dilengkapi dengan teater yang memutar video meletusnya Merapi dari periode ke
periode; ”Museum” mini yang menyimpan miniatur Gunung Merapi, macam-macam
batuan hasil erupsi Merapi, foto-foto letusan Merapi, dan informasi lain
seputar Merapi; plus….tempat makan-makan. Menikmati secangkir kopi dan
semangkuk mie rebus yang mengepul hangat di tengah cuaca dingin dan hamparan
pemandangan yang didominasi warna hijau-biru, ternyata sangat lain rasanya….

08
12





Oke, mari lanjutkan perjalanan. Keluar dari jalur
Jl. Pemuda, kita kembali akan terpaku oleh puluhan, ratusan, ribuan patung batu
yang di pajang disepanjang jalan menuju Borobudur oleh puluhan pekerja seni di
Ds. Tamanagung. Setelah melewati Jembatan kali Pabelan, ada satu lagi situs
keagamaan sekaligus pendidikan, yaitu Pondok
Pesantren Pabelan
yang lokasinya sekitar 1 Km dari jalan utama. Masih asri
dan dikitari sawah nan hijau segar. Tapi sayangnya, disinilah batas wilayah
Muntilan berakhir. Selanjutnya kita bisa memilih, melanjutkan perjalanan ke
Kota Magelang atau Borobudur. Keduanya berjarak sekitar 20 Km dari Muntilan.

Yaa…ternyata meskipun kota kecil, capek juga ya
muter-muter di Muntilan. A nice village, isn’t it?

 -Juanda, hari ke3 ’08-

04
Nov

AG 3609 EH, samsung X 100, dan Twinmos 2GB

Bagiku, mencintai adalah menyebut namamu dalam tiap-tiap do’a malamku dan
memuja untuk kebahagiaanmu.

Jadi, berpisah sekalipun, aku tetap tersenyum. Lihatlah, tidak ada air mata…

Aku telah mengantarmu sampai ke pintumu dan memastikan kau tidur lelap
malam nanti.
Tidak ada ucapan
selamat malam dan selamat mimpi indah. Lalu aku akan melanjutkan jalanku.

Aku tau aku tak sendirian. Ada ksatria yang masih menungguku. Entah dimana.
Entah bagaimana. Entah kapan. Tapi aku akan memperjuangkannya. Pasti
menemukannya.

 

-051107-

27
Aug

Hujan, Jalan, Sunyi, dan Ketakfahaman: Sebuah Lamunan (2)

Suatu waktu, kalau kau ada waktu dan kau lagi mau, akan kuperlihatkan padamu warna hatiku (maaf kalau agak egois, karena sebenarnya sudah lama aku mencari warna hatimu. merah. ungu. biru. tapi ujung-ujungnya aku sadar bahwa untuk menebak warnamu, aku harus membunuh ratusan rindu yang merubung malam-malamku lebih dulu. itu sangat susah buatku. maka kubiarkan saja aku tetap buta pada warnamu. sampai saat ini.)

Hatiku bersampul warna ungu muda dengan berjudulkan huruf besar berbunyi: "Ketakfahaman". Ia mencari definisi atas keberadaannya pada kamus kecil kehidupan. Ia mencari bunyi-bunyi dari senyap yang menyelusup pelan dari jendela pagi. Ia bercermin pada cermin retak yang bercerita tentang hujan, semalaman padaku. Ia mencuri kelembutan cahaya bulan dan memakai kedahsyatan panas matahari pada sendu yang sama. pada wajah yang sama. dan itulah ia…

Bersambung… (lagi)

29
Jul

No Name

Ia datang padaku pada suatu kali

ketika embun belum lagi membuka kunci mimpi

dan pagi belum melapangkan jalan kesadaran

Pernah juga ia datang di tengah siang

justru ketika di hatiku tak ada cukup ruang

untuk membangun lamun

Tapi lebih sering ia mengendap malam-malam

menembak mati kantuk dan membunuh waktu tidurku

Ia tak masih tak bernama selama kau masih belum menyapanya

tapi sementara ini, kupanggil ia "Cinta"

^-^   -DEVIciously-

15
Jul

Di luar bumi

Hei! Benarkah matahari beku di pelupuk matamu?

siang terlalu gegas pergi

tak pula sempat berkisah pada para pejalan kaki

sepanjang lorong penuh tempelan reklame resah

itukah terjemahan wujud matahari menurutmu?!

Angin limbung. Berkisar-kisar di tanah rendah

melambung-putarkan sampah-sampah

dan..malam menjemput lebih cepat dari jadwal

lalu kau mulai sadar, kau sendirian tak tau jalan

Orang-orang berlalu lalang. melamun. membaca koran.

mendengarkan i-pod lewat earphone. makan. berjalan.

ada lagi-kah untuk menyebut saling tak peduli?!

selintas..(tapi aku faham) matahari di matamu itu mencair

ooiiii…itukah wujud airmata menurut kamusmu?

dunia terlalu terlambat untuk mengerti

bahwa orang-orang sepertimu selalu dirundung sunyi

tah hendakkah kau lari?!

-DeviBelajarMemaknai-

-diJuandaSuatuSiangYangTerlaluBiasa-